Home » , , , » Tradisi Puter Kayun

Tradisi Puter Kayun

Tradisi Puter Kayun diadakan setiap 7 hari setelah Lebaran, masyarakat berbondong-bondong dari Banyuwangi kota pergi ke Watu dodol dengan menggunakan delman/dokar.Dan tradisi ini merupakan tradisi tahunan masyarakat sebagai ungkapan rasa syukur atas nikmat yang telah diberikan. Watu dodol memang sangat cocok untuk tempat wisata melihat akses untuk menuju kelokasi yang mudah di tambah banyaknya cerita unik dan mistis di watu dodol tersebut.

puter kayun


Jarak yang ditempuh dari arak-arakan dokar hias tersebut yaitu sekitar 16 km. Dan tradisi Ini selalu diadakan setiap tahun pasca Lebaran. Tradisi ini dinamakan Puter Kayun. Dan yang unik adalah yang menjadi kusir delman bukanlah sembarang orang, mereka harus garis keturunan dari Ki Buyut Jaksa (Ki Martajaya). Ki Buyut Jaksa adalah seorang pertapa yang tinggal di gunung Silangu Dia adalah seorang yang sangat sakti. Dan Dia adalah orang yang ikut andil dalam terjadinya pemecahan batu di daerah gunung Batu yang sekarang dikenal dengan nama Watu dodol. Dan kami dari wisata alam indonesia sengaja memberikan informasi tentang puter kayun untuk melengkapi informasi wisata yang ada di wilayah Banyuwangi.

Legenda Puter Kayun di Watu Dodol


Pada zaman dahulu diadakan sayembara untuk membangun sebuah jalan yang menghubungkan antara Banyuwangi ke Surabaya yang harus menembus sebuah gunung Batu. Dan dalam proyek pembangunan jalan tersebut tidak hanya manusia yang bekerja dalam proyek pembangunan jalan. Makhluk halus pun ikut andil. Itu berawal saat gunung Batu yang memisahkan jalan antara Surabaya – Banyuwangi menutupi jalan dan menghambat proyek tersebut.

Tidak ada seorangpun yang dapat memecahkannya, karena batu yang ada di gunung Batu tersebut sangatlah keras. Mereka selalu menyerah tanpa ada hasil. Akhirnya Schopoff ( Residen VOC di Banyuwangi ) menyuruh Mas Alit ( Bupati Banyuwangi yang merupakan keturunan Tawangalun ) untuk mengadakan sayembara yang imbalannya berupa tanah dari Sukowidi sampai gunung Batu yang kira-kira 8 km.

Karena tidak ada seorang pun yang berhasil maka Mas Alit mengutus Ki Buyut Jaksa untuk membantunya. Awalnya ia menolak namun akhirnya setuju. Ia memanggil Raja Makhuk halus, Raja makhluk halus itu mengadakan perjanjian dengan Ki Buyut Jaksa. Satu diantaranya adalah keturunan Ki Buyut Jaksa harus selalu menengoknya di batu besar yang merupakan tempatnya bernaung dan batu itu merupakan bagian dari gunung Batu yang tepat berada di tengah jalan raya yang menghubungkan antara Banyuwangi – Surabaya.

Setelah kejadian tersebut, keturunan Ki Buyut Jaksa pun mulai melakukan tradisi itu. Waktu yang dipilih adalah saat Lebaran Ketupat yaitu 7 hari setelah Lebaran. Mereka tidak hanya menengok saja, tetapi juga berwisata dengan membawa makanan dan minuman yang akan dimakan beramai-ramai dengan warga sekitar. Tradisi ini selalu menarik perhatian dari semua kalangan yang melihatnya. Bahkan sampai sekarangpun Tradisi tersebut masih dilestarikan dan dikenal sebagai Tradisi Puter Kayun yang sekaligus sebagai tradisi tahunan yang bisa menarik para wisatawan untuk berkunjung ke tempat wisata Watu Dodol.

Hotel dan Villa Sekitar Watu Dodol

Bangsring Breeze
Jl. Raya Situbondo KM 17 Gg. Bangsring Breeze, Bangsring, Wongsorejo, 68453 Banyuwangi, Indonesia

Hotel Berlian Abadi
Jl. Yos Sudarso No. 165, 68485 Banyuwangi, Indonesia

Kampung Osing Inn
Jalan Dharma Putra, Lingkungan Watu Ulo RT 02 / RW 02, 68431 Banyuwangi, Indonesia

Manyar Garden Hotel
Jl. Gatot Subroto no. 74, 68471 Banyuwangi, Indonesia 

Mirah Hotel
Jl. Yos Sudarso no 28, 68467 Banyuwangi, Indonesia
 
Ritansaroebuck
Jl. Sayu Wiwit No. 50, 40000 Banyuwangi, Indonesia

Shintana Bisma Homestay
Jl. Karimun Jawa No. 15, 68413 Banyuwangi, Indonesia

Watu Dodol Hotel & Restaurant
Jl. Raya Situbondo KM 14 Watu Dodol, 68462 Banyuwangi, Indonesia

0 comments:

Post a Comment

EnglishFrenchGermanIndonesianItalianPortugueseRussianSpanish

Boking Hotel